Selasa, 15 November 2011

neomodernisasi


NEOMODERNISME DAN PENDIDIKAN ISLAM
A.    Neomodernisme dan Pendidikan Islam: Perspektif Etimologis dan Terminologis
Gelombang pembaharuan Islam merupakan bagian dari jawaban “kemandulan” dunia Islam yang ditengarai belum mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Penyebabnya adalah kecenderungan pemahaman keagamaan yang menginduk pada teks-teks normatif, sehingga di tengah-tengah arus pembaharuan, Islam dikesankan masih berjalan di tempat.
Modernisasi difahami dalam dunia Islam sebagai sebuah fenomena janus-faset (berwajah ganda). Hal itu tentunya membawa keuntungan teknologi dan ilmu pengetahuan bagi masyarakat muslim, tetapi dengan akibat yang berpengaruh luas pada kebudayaan dan nilai-nilai. Fazlur Rahman menilai, bebrapa masyarakat dalam menghadapi modernisasi dengan cara yang pragmatis, mengakibatkan keterputusan yang terduga dengan tradisi sejarah intelektual.
Tradisi intelektual pada abad ke-20 ini sama sekali tanpa kedalaman hikmah, perbedaan, dan celah kritis. Apa yang tersisa hanyalah terhentinya pertumbuhan dan tradisi hirarkis yang mengakibatkan stagnasi. Dalam kenyataanya, ia tetap menghargai ulama yang telah meninggalkan aspek paling efektif dari peninggalan intelektual mereka dengan ikut serta dalam reformasi dan kreatif menghadapi tantangan-tantangan baru.
Modernisme yang sudah mencoba untuk membebaskan dalam berfikir dan berkreasi juga dianggap kurang sempurna. Karenanya dibutuhkan pemikiran baru yang yang diasumsikan “lebih sempurna”. Maka fase yang berada setelah modernisme disebut pos- modern yang disusul dengan neomodern. Post-modernisme identik dengan dua hal: Pertama, Post-modernisme dinilai sebagai keadaan sejarah setelah zaman modern. Sebab kata post atau pasca sendiri secara literal mengandung pengertian ‘sesudah’. Kedua, Post-modernisme dipandang sebagai gerakan intelektual yang mencoba menggugat, bahkan mendekontruksi pemikiran sebelimnya yang berkembang dalam bingkai paradigma pemikiran modern. Perjalanan fase Post-modern kian berarti hingga masuk dalam wilayah agama. Agama dijadikan titik tumpu pergerakan intelektual ini.  Pada akhirnya agama mampu menjawab dan berjalan dengan diskursus ini. Namun, banyak pemikir yang belum bisa memberi jawaban secara memuaskan.
Secara sederhana neomodernisme dapat diartikan dengan “paham modernisme baru”. Neomodernisme dipergunakan untuk memberi identitas pada kecenderungan pemikiran keislaman yang muncul sejak beberapa dekade terakhir yang merupakan sintesis, setidaknya upaya sintesis antara pola pemikiran tradisionalisme dan modernisme.
Jadi neomodernisme pendidikan Islam adalah proses penanaman nilai edukatif dengan jalur kombinasi tradisi dan modernisasi. Substansi neomodernisme pendidikan Islam adalah pencerahan “dunia pendidikan” dengan penyesuaian masa yang sedang berkembang.
B.     Neomodernisme Sebagai Jembatan Tradisi dan Modernisasi
Neomodernisme akan tetap menjadi kajian yang menarik dalam studi Islam. Sebab Fazlur Raahman mencoba untuk mendialogkan antara “sesuatu yang lama” dengan “sesuatu yang baru”. Sebagai agama yang mengharuskan kepedulian sosial, Islam mengajarkan pemberdayaan manusia dengan jalur penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.
Ketika tradisi dipandang sebagai warisan kebudayaan dan pemikiran, maka kecenderungan perilaku agama tradisional adalah:
1)      Menganut langkah-langkah pendahulunya berdasarkan subyektifitas sejarah.
2)      Mensakralkan teks-teks wahyu, yang di dalam agama Islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits.
3)      Sangat selektif terhadap hal-hal yang baru, dan bahkan menjauhi dari segala bentuk pembaharuan.
Keadaan tersebut menyebabkan langkah dan pola hidup masyarakat tradisional dianggap kurang dinamis. Namun mereka tetap meyakini apa yang dilakukan adalah hasil pilihan hidup yang akan menjadikan mereka nikmat. Kebuadayaan dan pemikiran lama yang telah ditelurkan oleh para pendahulu bukan merupakan sesuatu yang dianggap salah. Dari situ justru lahir sebuah “pendidikan” atau pengalaman untuk mencapai kemajuan.
Sedangkan disisi lain, terdapat garis perlawanan terhadap tradisi yang sangat kental, yakni modernisasi. Modernisasi muncul di Inggris pada abad ke-18, yang dikenal sebagai Revolusi Industri. Mula-mula proses ini menyebar ke wilayah-wilayah yang memiliki kebudayaan yang sama dengan Inggris kemudian menyebar ke wilayah-wilayah yang kebudayaannya berbeda dengan Inggris.
Sejarah mencatat bahwa aspek yang paling spektakuler dari modernisasi adalah pergantian teknik produksi yang bertumpu pada penggunaan “energi bernyawa” (animate source) menuju energi tak bernywa (inanimate source), sebagaimana terangkum dalam pengertian Revolusi Industri. Dalam perkembangannya, proses pergantian teknik produksi tersebut hanya merupakan salah satu aspek dari proses modernisasi.
Di bidang ekonomi, modernisasi berarti tumbuhnya kompleks-kompleks industri besar, tempat barang konsumsi, dan produksi yang diadakan secara masal. Ekonomi modern serupa itu menuntut adanya suatu masyarakat nasional yang memungkinkan terciptanya ketertiban dan ketentraman sehingga mampu menjamin lalu lintas barang, orang, dan informasi.
Perkembangan modernisasi menyebabkan misi kaum muslim mengalami pergeseran nilai. Kaum muslim tentunya mempunyai kecenderungan untuk mengamalkan perubahan. Perubahan itu selanjutnya berkembang sebagai  sebuah tawaran baru. Tawaran baru ini bisa saja dilihat sebagai penyesuaian perspektif. Islam modern dan “identitas budaya” dunia Arab, hanya berdasar pada sebuah kesusastraan di mana para peminatnya hanya bersedia memadukan warisan mereka dari upaya pengkajian kembali.
Pada periode klasik, Islam mulai nampak maju sedangkan Barat dalam kondisi kegelapan. Namun sekarang, posisi itu terbalik arah, Islam sangat lemah sementara Barat mulai menunjukkan kekuatannya. Oleh karena itu, terwujudlah apa yang disebut pemikiran dan aliran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam.
Pembatasan modernisasi berdasarkan perspektif disiplin ilmu dapat dilakukan karena modernisasi merupakan gejala yang meliputi segala-galanya sehingga tak dapat dipelajari dalam satu disiplin ilmu tertentu. Sesuai dengan disiplin ilmu mereka, para ahli cenderung membatasi diri pada salah satu gejala saja. Fazlur Rahman memberikan garis besar tentang sejarah Islam pada masa modern adalah bagian dari dampak Barat terhadap  masyarakat Islam sendiri, khususnya sejak abad ke-13 H/19 M. Islam dipandang sebagai suatu masa yang semi-mati yang menerima pukulan-pukulan destruktif dan pengaruh formatif dari barat.
Perluasan model modernisasi Islam ini oleh Fazlur Rahman diklasifikasikan menjadi dua model modernisme; 1) modernisme intelektual dan, 2) modernisme politik. Keduanya berjalan diatas rel pemberdayaan masyarakat Islam.
Apa yang telah dikampanyekan tentang neo-modernisasi adalah mencoba menjembatani tradisi dan modernisasi. Tradisi dan modernisasi seakan tidak pernah menjumpai titik temu. Karenanya, hal yang paling urgen dalam kaidah neomodernisme yaitu menghindarkan pembuangan warisan budaya lama dan menghiasinya dengan pola pembaharuan.   
C.    Rancang Bangun Pendidikan Islam dan Modern
Dalam pandangan neomodernisme, terdapat dua model pendidikan: yakni, tradisional dan modern. Kedua model pendidikan ini mempunyai karakter yang berbeda. Namun substansi kedua pendidikan itu tetap mempunyai tujuan untuk memberdayakan manusia (empowerment).
Pendidikan tradisional sebagaimana diungkapkan oleh Vernon Smith adalah sistem pendidikan yang didasarkan pada beberapa asumsi: 1)  ada suatu kumpulan pengetahuan dan keterampilan paling tertentu yang harus dipelajari anak-anak; 2) tempat terbaik bagi sebagian besar anak untuk mempelajari unsur-unsur ini adalah di sekolah formal; dan 3) cara terbaik supaya anak-anak bisa belajar adalah mengelompokkan mereka dalam kelas-kelas yang ditetapkan berdasarkan usia mereka.
Sistem pendidikan tradisional mempunyai ciri utama:
1)      Anak-anak biasanya dikirim ke sekolah di dalam wilayah geografis distrik tertentu.
2)      Mereka kemudian dimasukkan ke kelas-kelas yang biasanya dibeda-bedakan berdasarkan umur.
3)      Anak-anak masuk sekolah di tiap tingkat menurut berapa usia mereka pada waktu itu.
4)      Mereka naik kelas setiap habis satu tahun ajaran.
5)      Prinsip sekolah otoritarian sehingga anak-anak diharap menyesuaikan diri dengan tolok ukur perilaku yang sudah ada.
6)      Guru memikul tanggung jawab pengajaran dengan berpegang pada kurikulum yang sudah ditetapkan.
7)      Sebagian besar pelajaran diarahkan oleh guru dan berorientasi pada teks.
8)      Promosi tergantung pada penilaian guru.
9)      Kurikulum berpusat pada subyek-subyek akademik.
10)  Bahan ajar yang paling umum tertera dalam kurikulum adalah buku-buku teks.
Deskripsi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tradisional mencoba untuk mengarahkan pada garis transfer of knowledge. Artinya, sebuah proses pendidikan yang difokuskan pada bentuk pemberdayaan sistemik dan belum memberikan keleluasan pada peserta didik. Tujuan pendidikan tradisional adalah membentuk siswa didik secara teknis agar menjadi orang yang berwawasan luas lewat teks-teks yang tersaji.
Sasaran yang hendak dicapai oleh proses pendidikan tidak jauh dengan target yang dikehendaki. Dalam aspek ini kecenderungan pendidikan diarahkan pada tujuh prinsip sasaran:
1.      Kesehatan
2.      Penguasaan proses-proses mendasar
3.      Keanggotaan yang layak dalam keluarga
4.      Profesi
5.      Kewarganegaraan
6.      Penggunaan waktu luang secara layak
7.      Karakter etis.
Selain itu, pada tahun 1938 sasaran pendidikan tersebut dikembangkan lagi oleh Komisi Kebijakan Pendidikan dalam Asosiasi Pendidikan Nasional Amerika, menjadi empat bidang:
1.      Kesadaran diri
2.      Hubungan antar manusia
3.      Efesiansi ekonomis
4.      Tanggung jawab kewarganegaraan
Fungsi pokok pendidikan dalam masyarakat modern sebagaimana diungkapkan oleh Shipman (1972) terdiri dari tiga bagian:
1.      Sosialisasi
Sebagai lembaga sosialisasi, pendidikan adalah wahana bagi integrasi anak didik ke dalam nilai-nilai kelompok atau nasional yang dominan.

2.      Penyekolahan
Penyekolahan menyiapkan mereka untuk menduduki posisi sosio-ekonomi tertentu.
3.      Pendidikan
Untuk menciptakan kelompok elit yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan besar bagi kelanjutan program modernisasi.
Dalam kajian pendidikan dan modernisasi telah ditemukan variabel-variabel, yang terdiri dari:
1.      Ideologis-normatif
Orientasi-orientasi ideologis tertentu yang diekspresikan dalam norma-norma nasional.
2.      Mobilisasi politik
Kebutuhan bagi modernisasi dan pembangunan menuntut modernitas dan innovator yang dapat memelihara dan bahkan meningkatkan momentum pembangunan.
3.      Mobilisasi ekonomi
Kebutuhan tenaga kerja yang handal menuntut system pendidikan untuk mempersiapkan anak didik menjadi SDM yang unggul dan mampu mengisi berbagai lapangan kerja, bahkan mengharuskan untuk melahirkan SDM yang spesialis dalam konteks berbagai bidang.
4.      Mobilisasi sosial
Peningkatan harapan bagi mobilitas sosial dalam modernisasi dan pembangunan menuntut system pendidikan untuk memberikan akses dan venue kea rah tersebut.
5.      Mobilisasi kultural
Menunutut system pendidikan untuk mampu memelihara stabilitas dan pengembangan warisan cultural yang kondusif bagi pembangunan.
Pada saat yang sama variabel-variabel yang tercakup dalam transformasi sistem pendidikan itu adalah, sebagai berikut:
1.      Modernisasi Administratif
Menuntut diferensiasi sistem pendidikan untuk mengantisipasi dan mengakomodasi berbagai kepentingan diferensiasi sosial, teknik, dan manajerial.
2.      Diferensiasi Struktural
Pembagian dan deferensiasi, lembaga-lembaga penddikan sesuai dengan fungsi-fungsi yang akan dimainkannya.
3.      Ekspansi Kapasitas
Perluasan sistem pendidikan untuk menyediakan pendidikan bagi sebanyak-banyaknya peserta didik sesuai kebutuhan yang dikehendaki berbagai sektor masyarakat.
Sehingga perjalanan pendidikan dengan bangun sistem tersebut pada akhirnya akan melahirkan out put sebagai berikut:
1.      Perubahan sistem nilai
2.      Output politik
3.      Output ekonomi
4.      Output sosial
5.      Output kultural
Secara garis besar, pendidikan modern memberikan peluang terhadap pengembangan akal (rasionalitas). Berbeda dengan pola pendidikan tradisional yang cenderung “apa adanya” dan sulit untuk berubah. Dengan kondisi demikian, Fazlur Rahman melihat perlu menyelaraskan antara tradisi dan modernisasi yang semmestinya dinilai mempunyai garis kesinambungan.
D.    Hubungan Neomodernisme dan Pendidikan Islam
Islam dengan segala jenis perangkatnya tidak berhenti pada satu titik. Tapi ia berkembang di semua sektor, mulai dari ideologi, sosial, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Ini menandakan bahwa Islam tidak lari terhadap tanggung jawab kemanusiaan. Termasuk di dalamnya adalah tanggung jawab pemberdayaan intelektualitas lewat jalur pendidikan.
Ketika Islam dapat memahami pembangunan atau pemakmuran dunia, disinilah posisi pendidikan sangat penting. Dalam nalar pemikiran tentang neomodernisasi, Fazlur Rahman menetapkan “konsep perubahan” yang ada dalambingkai modernitas dipandang terlalu ke barat-baratan. Selain itu, nilai agama juga mulai bergeser. Dengan kata lain, modernisme sangat kental dengan likuidasi tradisi. Oleh karenanya, neomodernisasi henak membangun dialog tradisi dan modernisasi. Islam diposisikan sebagai objek kajian, yang dimaknai sebagai budaya.
Untuk mengembalikan dinamika Islam, Fazlur Rahman menyarankan adanya pembedaan yang jelas antara Islam normaif dan Islam sejarah. Islam normatif adalah ajaran-ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang terbentuk nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip dasar, sedang Islam sejarah adalah penafsiran yang dilakukan terhadap ajaran Islam dalam bentuknya yang beragam.
Neomodernisme yang diartikan sebagai gerakan intelektual sangat berhubungan dengan pendidikan. Karena neomodernisme berorientasi pada pembaharuan, dan pembaharuan dalam Islam diawali dari pendidikan. Hubungan neomodernisme dan pendidikan bersifat simbiosis mutualistik. Artinya, satu sama lain saling membutuhkan.
Pendidikan Islam yang dikembangkan dalam kondisi globalisasi tidak ada jalur lain selain lewat jalur modernisasi. Namun modernisasi bagi Fazlur Rahaman dinilai identik dengan westernisasi. Maka dibuatlah gerakan baru yang disebutnya neomodernisme yang akan menjawab identitas pendidikan Islam sejati.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar